Tentang Nasib dan Takdir

Tentang Nasib dan Takdir, – Dalam hidup kita sering sekali mendapatkan istilah-istilah Nasib dan Takdir apakah itu sama ? atau apakah anda percaya kalau hidup ini telah di tentukan oleh nasib dan takdir ? Apakah yang dimaksud dengan nasib dan takdir ?

Kita sering mendengar kalau hidup kita seperti sudah ada yang skenariokan, benar tidak ? apakah benar kita hidup sudah seperti yang ditentukan oleh YME ?

Nasib dan Takdir

Soal definisi Nasib dan takdir dapat kita artikan sebagai berikut Takdir itu adalah keadaan yang tidak bisa dirubah, sudah ditentukan. Contohnya adalah kita lahir jadi anak siapa, lahir dimana, kapan kita lahir, dan lain sebagainya.

Sedangkan Nasib adalah sesuatu yang dapat kita kendalikan karena berupa hubungan sebab dan akibat. Contohnya adalah soal jodoh, jodoh itu artinya bertemu. Kita bertemu dengan seseorang, itu sudah ditakdirkan namun apakah orang itu akan jadi sekedar teman saja, bakal jadi musuh, sahabat, pacar, istri atau lain sebagainya, itu semua tergantung pilihan-pilihan yang kita ambil dan lakukan dalam hidup.

Takdir itu bagaikan selembar kertas putih, setiap orang mendapatkan lembaran kertas yang berbeda masing-masing, ada yang panjang ada yang pendek, ada yang putih dan tanpa garis dan ada yang kasar permukaanya.

Nasib adalah cerita yang kamu tuliskan diatas kertas itu dan itu kamu yang tentukan sendiri.

Jadi kehidupan Bukan terskenario, lebih tepatnya ada hal-hal yang memiliki awal yang kita tidak bisa atur. Ada awal / modal yang diberikan dan modal atau awal ini juga menentukan pilihan-pilihan dalam hidup yang bisa kita pilih kelak dalam menjalankan kehidupan.

Ada sebuah cerita yang sangat menarik tentang Nasib dan Takdir ini …

Di jaman dinasti Ming hidup seorang bernama Yu Fan, Yu Fan ini ketika kecil pernah bertemu dengan seorang peramal yang sangat jitu. Si peramal meramalkan banyak hal mulai dari orang tuanya juga dirinya.

Si peramal mengatakan Yu Fan bakal lulus ujian daerah tapi gagal ujian nasional, dia tak bisa jadi sarjana kekaisaran dan hanya akan menjadi pejabat rendahan, dia juga tidak akan menikah yang berarti tidak akan memiliki anak dan hanya akan hidup sampai usia 53 tahun.

Awalnya si Yu Fan tidak percaya namun semua yang diramalkan oleh si peramal mengenai orang tuanya terjadi tepat seperti yang telah dikatakan oleh peramal tersebut.

Dia mulai percaya dan karena itu dia jadi sangat khawatir dan stress bahwa ramalan si peramal memang tepat, karena hal itu dia jatuh sakit dan ketika ujian nasional tiba dia gagal jadi sarjana kekaisaran. Ketika proses seleksi dilakukan dia terlihat sangat pucat dan lesu, melihat hal ini kepala urusan penempatan pejabat menganggap Yu Fan tidak cocok jadi pejabat di ibukota jadi hanya dijadikan pejabat kecil di daerah E-Sports Maxbet.

Semua yang diramalkan si peramal tepat terjadi, hal ini membuat Yu Fan uring-uring an dan sering mengutuki langit, dia mulai tidak lagi mengurus dirinya karena menganggap takdir langit tidak bisa diubah lagi, jadi buat apa berusaha toh semua sudah tidak bisa dirubah.

Walaupun dia seorang pejabat kecil di daerah namun dia tetap lah seorang terpelajar namun karena sikapnya itu tidak ada satu keluarga pun mau menyetujui anak gadisnya untuk dinikahi oleh Yu Fan. Akhrinya Yu Fan pada usianya yang sudah mencapai 30 tahun belum beristri.

Selang beberapa tahun seorang Bhiksu melewati tempat itu dan kebetulan dia mendengarkan Yu Fan mengutuki langit karena takdir dan nasibnya yang buruk.

Dia kemudian mendekati Yu Fan dan menanyakan sebab musabab kenapa dia melakukan hal itu. Yu Fan lalu menceritakan mengenai perjalanan hidupnya dan soal ramalan mengenai nasib dirinya.

Si Bhiksu kemudian berkata pada Yu Fan, “Kamu lihat ayam yang ada didalam kandang di sana ?, menurutmu apa takdir dari si ayam itu ?”

Yu Fan menjawab, “Ayam itu dipelihara untuk dipotong tentu saja takdirnya akan mati dipotong lalu dimasak, nasibnya sungguh buruk terlahir menjadi ayam pedaging.”

Si Bhiksu lalu bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa yakin seperti itu ?”

Yu Fan menjawab, “Ayam jenis itu memang terlahir untuk dimakan manusia, dia dipelihara untuk kemudian setelah dewasa dipotong. “

Lalu si Bhiksu berjalan kearah ayam itu dan melepaskannya dari kandang

Si Bhiksu lalu berkata, “Aku baru saja merubah nasibnya, dia sekarang bebas pergi kemana saja dan tidak perlu mati dipotong.”

Tapi kemudian si ayam berjalan kembali ke kandangnya.

Yu Fan lalu berkata, “lihatlah ayam itu memang sudah ditakdirkan untuk mati dipotong, dia tidak tahu harus kemana dan kembali lagi berjalan ke kandangnya. Sungguh bodoh ayam itu padahal dia bisa saja bebas namun dia kembali ke kandangnya.”

Si Bhiksu lalu tertawa seraya berkata, “Bukankah kamu juga seperti ayam itu ?  Jika pun langit mengubah suratan takdir mu namun tidak kamu sadari dan berlaku sama seperti sedia kala maka apa ada yang akan berubah ? “

Yu Fan tiba-tiba tersadar akan omongan Bhiksu ini.

Dia tersadar bahwa sama seperti si ayam yang tidak merubah hidupnya maka takdir si ayam sudah ditentukan untuk mati jadi makanan padahal ada kesempatan untuk tidak seperti itu hanya si ayam tidak menyadari, baik si ayam tidak tahu harus berbuat apa atau karena si ayam sudah menerima saja takdirnya terlahir sebagai ayam pedaging.

Dia tersadar bahwa dirinya gagal menjadi sarjana karena tekanan akibat percaya pada ramalan tersebut dan akibatnya dia jadi tidak mau berusaha. Ketika dia bercermin, dia melihat betapa buruk penampilannya dan dia sadar bahwa dia tidak mendapatkan pasangan karena siapa keluarga yang mau mendapatkan menantu dengan rambut acak-acak an dan tubuh pucat.

Dia juga sadar bahwa tubuhnya sering sakit-sakitan karena dia sudah putus asa dengan ramalan tersebut, akhirnya untuk melewatkan hari demi hari dia sering minum sampai mabuk dan ini berpengaruh pada kesehatannya.

Setelah dia sadar, dia menghentikan kebiasaan buruknya, sehingga tubuhnya kembali bugar, dia menyisir dan mengikat rambutnya serta membuat pakaian baru. Dia melepaskan jabatan yang dimilikinya dan dengan sedikit uang yang dimilikinya dia menjadi pedagang, karena dia bagaimanapun adalah seorang Sarjana (sarjana di jaman itu adalah sebuah status sosial yang tergolong tinggi, pada masa dinasti Ming yang namanya Sarjana tidak boleh dihukum sama hakim kecuali disetujui oleh kepala daerah atau kaisar kalau itu Sarjana kekaisaran).

Sedikit demi sedikit usahanya menghasilkan dan setelah itu dia meminta seorang mak comblang untuk mencarikanya seorang istri. Setelah beberapa saat dia mendapatkan seorang calon istri, calon mertuanya terkesan melihat Yu Fan dan memperbolehkan putrinya untuk menikahinya. Yu Fan akhirnya berkeluarga dan memiliki beberapa orang putra dan putri. Dan hidup hingga melewati usia 53 tahun dan beranak cucu

“If we do not change our direction, we are likely to end up where we are headed.”

Kita tidak bisa mengatur angin (takdir), tapi kita bisa mengatur layar (nasib).

Lao Tzu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s